Nikmatnya meremas buah dada tante Revi - 3A

Di posting oleh Cerita Hunter pada 12:03 PM, 04-Jun-11

Di: family sedarah

buah-dada-tante-revi.jpg
Badan Revi terasa segar setelah mandi dengan air hangat. Dirasakannya kondisi badannya sudah mulai enteng. Panas badannya sudah menurun dan pening di kepalanya pun telah menghilang. Ya, sebenarnya dia sudah merasa cukup sehat tapi dia toh bringsut lagi di balik selimut. “Kapan lagi bisa malas-malasan seperti ini…?” Pikirnya senang. Sambil tiduran dipencetnya remote televisi mencari-cari channel yg menaygkan infotainment. Setelah memilih 1 channel, diraihnya sebuah apel dari meja kecil di samping ranjangnya. “Hari ini muas-muasin manjain diri aah…” ucapnya dalam hati. Sementara itu bejo baru saja selesai menyapu seisi rumah. Di dekatnya, Doni yg sebelumnya anteng di dalam babywalkernya mulai merengek-rengek. bejo pun paham, botol susu yg sudah disiapkan sejak tadi segera dibrikannya. Pokoknya hari ini bejo benar-benar seperti ibu rumah tangga menggantikan Revi. Setelah menyapu dia mengerjakan pekerjaan lainnya dengan sigap. Dan bila Doni rewel, bejo juga sudah tak canggung lagi memomongnya.

***

Hari kini menjelang siang. Doni yg sebelumnya aktif brmain ditemani oleh bejo sudah tampak kelelahan. bejo pun menggendongnya dan masuk ke kamar Revi. Diketuknya pintu kamar Revi yg tidak tertutup.

“Yaa…?” Sahut Revi yg masih brmalas-malasan di ranjang.

“Tante nggak tidur ya?” Tanya bejo setelah masuk.

“Nggak Jo, tidur terus-terusan malah tambah pening…” Jawab Revi. Dihadiahinya bejo dengan senyuman manis karna dia sudah membantu mengurusi rumah dan Doni.

“Sudah bres semua ya Jo, duh kamu hebat deehh… Bisa diandalkan!” Pujinya.

“Iya Tante… Ini Doninya udah ngantuk lagi, biar tidur dulu…” Jawab bejo yg kegeeran. Hatinya melambung mendapat senyuman dari Tantenya itu. Takut salah tingkah, bejo segera melangkah ke ruang sebelah hendak menidurkan Doni di box bayi.

“Eh, sini aja Jo, biar tidur di samping Tante. Biar Tante kelonin…” Revi menggelar kain perlak di sampingnya dan ditutupinya lagi dengan kain yg empuk. Disuruhnya bejo membaringkan Doni di atasnya.

“Kamu ambilin bantalnya di box bayi…” Pinta Revi lagi.

“Ya Tante…” Jawab bejo.

Setelah bejo menyerahkan bantal Doni Revi pun mengeloni Doni dengan sayg. “Makasih ya Jo, kamu istirahat gih…” Ucap Revi lembut.

bejo yg begitu mengagumi Tantenya itu kali ini memandangnya tanpa nafsu karna Revi sedang memancarkan kharisma keibuannya. Tapi, melihat ibu yg cantik begitu, bejo pun brkhayal seandainya istrinya nanti, ibu dari anak-anaknya kelak bisa secantik Revi. bejo yg sangat menghayati tanggungjawabnya kini brpikir untuk menyiapkan lagi susu bejo untuk sore nanti. Seperti tadi pagi, dia sudah menyiapkan susu di awal sehingga ketika Doni rewel minta minum dia tinggal menyerahkan botol susunya. Tapi tiba-tiba saja muncul rasa penasaran bejo dengan air susu itu ketika mengambilnya dari lemari es. Ditimang-timangnya botol susu itu. Ini adalah air susu Revi yg diperah Revi sendiri. Sebelumnya belum pernah bejo membaygkan seorang ibu memerah air susunya sendiri. Air susu itu adalah yg terakhir. Hanya cukup untuk 1 botol lagi. Setelah ini jika Tantenya masih belum bisa menyusui Doni, brarti tentu dia harus memerah susunya lagi. Wajah bejo mulai mupeng membaygkan adegan Revi memerah air susunya sendiri dari payudaranya yg indah itu. Terbesit ide nakal dalam benak bejo. Dia penasaran seperti apa rasa susu ibu itu. Bukannya memindah air susu itu ke botol susu Doni, bejo malah menuangkannya ke dalam gelas untuk diminumnya sendiri.

Awalnya bejo agak ragu dengan rencananya itu, dalam hatinya merasa konyol. Tapi persetan, pikirnya kemudian. Ditenggak habis juga akhirnya gelas brisi air susu Tantenya itu. Tiap kali meneguk susu itu, dada bejo brdebar kencang. Dipandangnya gelas yg sudah licin tandas itu. Tanpa memikirkan rasa susu itu, ada semacam perasaan puas dalam diri bejo. Bahkan tanpa terasa batang bejo mengeras di balik celananya.

“Waduh…” Keluhnya. “Bisa-bisanya bangun adik kecilku ini…?” Keluh bejo pada dirinya sendiri dalam hati.

Ya terang saja batangnya itu mengeras. Jelas tidak mungkin kalau dia minum air susu Tantenya tanpa memikirkan sumbrnya, alias buah dada Tantenya yg montok itu. bejo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Sesekali tangannya menepuk-nepuk kepalanya sendiri. Dia seperti ingin mengenyahkan baygan yg kerap menyiksa batinnya itu. Tapi alih-alih hilang, baygan itu malah makin menjadi. Batangnya malah makin menegang hingga maksimal. “Anjiir…” makinya dalam hati. Entah setan mana yg merasukinya, tiba-tiba bejo bangkit menuju kamar Revi. Dia sendiri tidak tahu apa yg hendak dilakukannya. Kakinya seperti brgerak sendiri melangkah memasuki kamar Tantenya itu. Di dalam kamar dijumpai Tantenya sedang duduk brsandar di atas ranjang sambil membaca majalah. Di sampingnya Doni tampak telah tertidur pulas.

“Ada apa Jo?” Tanya Revi.

bejo terdiam. Wajah Revi yg tampak segar, dengan bebrapa helai rambut tipis jatuh menutupi dahi dan wajahnya, makin tampak mempesona di mata bejo. Revi menyibak rambut yg jatuh menutupi wajahnya itu. Darah bejo makin brdesir. Tiap gerakan Revi seperti sudah didesain untuk memanjakan mata laki-laki. Lidah bejo pun makin kelu.

“Ngapain aku ke sini dalam keadaan ngaceng begini???” Dalam hati dia menghardik dirinya sendiri. “Kamu mau perkosa Tantemu sendiri memangnya, haah??? Buruan sana ke kamar!! Coli sanaaa…!!!” Hatinya menghardik kembali. Tapi dia sudah terlanjur masuk ke kamar Revi. Jelas tidak mungkin pergi begitu saja mengatakan apa-apa. Makin lama dirinya diam, makin heran Revi dibuatnya.

“Ngg…ga Tante, ga ada apa-apa…” Akhirnya bejo menjawab.

Tapi jawaban macam apa itu? Kalo ga ada apa-apa ngapain masuk? Hatinya seperti menertawai dirinya sendiri. bejo pun tersenyum kecut. Revi tampak heran dengan jawaban itu, matanya melirik gelas kosong yg dibawa bejo.

“Oh mai gat!! Tantee… Cantik nian dirimuuu…” Puja bejo dalam hatinya yg makin terbuai.

Sungguh dahsyat kharisma kecantikan Tantenya itu. Hanya dengan gerakan mata saja, dia sudah bisa membuat hati bejo blingsatan. Tapi hanya sekejap saja dirinya terbuai. Tanpa sengaja gelas yg tadi digunakan untuk minum susu Revi masih dipegang di tangannya. Menyadari hal itu, bejo pun makin bingung harus brkata apa. Lirikan Revi pada gelas itu seperti membrondongnya dengan pertanyaan, “gelas apa itu Jo?! Kamu baru minum apa Jo?!” Padahal Revi sendiri sama sekali tidak menanyakan apa-apa.

“Sini Jo…” Revi menyuruh bejo mendekat.

Tangannya menepuk-nepuk sisi ranjangnya mengisyaratkan bahwa dia mempersilahkan bejo duduk di situ. Revi tersenyum. Dalam hatinya brtanya ada apa dengan keponakannya itu, kok canggung seperti dulu saat awal-awal dia baru datang. Sungguh bagi bejo saat itu lebih baik Revi menyuruhnya keluar kamar saja ketimbang malah menyuruhnya mendekat. Tapi sambil melangkah dikuatkan hatinya.

“Tampaknya aku sudah tak bisa mundur lagi… Maju teruuuss…” Katanya dalam hati. Lho, seperti mau ngapain aja dia itu. Gila.

Bukan bejo namanya kalau tidak segera bisa menguasai diri.

“Ini, susunya habis Tante…” Ucapnya lancar setelah duduk di dekat Revi.

“Lho… Habis ya…? Kirain cukup buat 3 kali…” Jawab Revi.

“Eee… Iya sih tadi sebenernya masih ada buat sekali lagi Tante.” Sahut bejo.

“Nah, trus kemana? Tumpah ya?” Tanya Revi.

bejo hendak mengiyakan. Dia sudah siap brbohong tentang hal ini. Tapi entah kenapa, tiba-tiba muncul kebranian dalam dirinya untuk menjawab jujur.

“bejo minum Tante…” Jawabnya polos. Hatinya pun brdebar menanti reaksi Tantenya.

Sungguh di luar dugaan, Revi spontan tertawa geli mendengar jawaban bejo. bejo meringis.

“Aduuh… Serius kamu Jo? Kok bisa-bisanya kamu minum air susu Tante itu…? Bukannya Tante udah belikan susu buat kamu sendiri? Sudah habis memangnya?” Tanya Revi brtubi-tubi setelah tawanya reda. Senyum lebar masih tersungging di bibir manisnya.

“Penasaran aja Tante…” Jawab bejo cengengesan dengan muka memerah.

“Penasaran gimana?” Tanya Revi lagi.

“Ya yg dibelikan Tante kan susu sapi…” Jawab bejo.

“Ya iyalah… terus kamu penasaran ya rasanya ASI? Duh, kamu ini ada-ada aja Jo… Jatah Doni gitu loh kamu minuum…” Ujar Revi gemas.

“Iya Tante, tadi bejo cuma iseng aja… ga tau deh… Maaf ya Tante…” Ucap bejo meminta maaf walau Tantenya itu sama sekali tidak menampakkan nada marah.

“Yah udah deh… Tapi gimana nanti kalo Doni haus, hayoo…? Tante belum bisa nyusuin nih… masih lemesss…” Ucap Revi manja.

“Diperah lagi aja Tante…” Jawab bejo enteng.

“Huuu… Kamu ini… Dipikirnya enak?” Ujar Revi sambil mengusap-usap kepala bejo dengan cepat hingga rambutnya brantakan. bejo meringis saja sambil merapikan rambutnya. Hatinya senang diperlakukan seperti itu oleh Revi.

“Badan Tante ini masih pegal. Terutama leher ini loh yg paling sakit kalo masuk angin… Kalo merah susu kepalanya harus nunduk terus, Tante belum kuat…” Jelas Revi. Tangannya diangkat memijit-mijit tengkuknya.

“Mmm… Biar bejo bantu Tante…” Entah angin darimana yg membuat bejo nekat mengucapkan itu tanpa ragu sedikit pun. Revi agak tercengang dalam hatinya melihat ponakannya yg mulai ‘nakal’ itu. Tapi dalam hatinya malah merasa gemas dan makin ingin menggoda bejo lebih jauh.

“Iih kamu… bantu ngapain?” Tanyanya menggoda. bejo tersipu tak menjawab.

“bejoo… kamu mulai genit yah? Kamu mau bantu memerah buah dada Tante iniii…?” Revi mencubit bejo gemas.

“I… iyaa Tante, kan kemarin Tante sendiri yg bilang…” bejo meringis membela diri. Cubitan Revi yg tidak sakit seperti cubitan sayg baginya. Jantungnya mulai brdebar-debar lagi, kali ini karena terlampau brsemangat.

“Kamu ini… Jo…” Ucap Revi lembut sambil membelai-belai rambut bejo yg terdiam tidak brani menatapnya.

“Sebenarnya itu ide bagus Jo, Tante memang butuh bantuan, kalau Oom-mu ada pasti Tante udah minta ke dia… Tapi kalo sama kamu…?” Revi idak melanjutkan ucapannya.
bejo

bejo

“Kenapa memangnya Tante…” Tanya bejo brlagak polos.

Revi tersenyum geli mendengarnya. Dipijitnya hidung bejo gemas,

“Kamu ini udah gede Jo…!” Ucapnya. Revi sebenarnya sedang mempermainkan perasaan bejo.

Dari tadi tangannya melancarkan ‘serangan maut’ mengusap-usap kepala bejo, mengelus rambutnya, mencubitnya, menepuk-nepuknya, kini bahkan memijit hidungnya. Belum lagi ditambah senyum manis yg brtubi-tubi dilemparkan pada bejo dari tadi.

“Kamu udah remaja sekarang. Udah pernah ‘ngimpi’ kan Jo? Kapan pertama kali?” Tanya Revi serius.

“Ee…Ngimpi apa…? Ooh maksud Tante mimpi basah?” bejo balik brtanya.Wajahnya merah padam tak menygka Tantenya bakal menanyakan hal itu.

“Ya iya…” Jawab Revi. “Udah kan?” lanjutnya mengulang pertanyaan.

“Ya… Udah Tante…”

“Kapan pertama kali?”

“Yaa… Ga tahu Tante udah lama deh, pas SD…”

“Nah lo, malah udah sejak SD…!”

bejo terdiam. Revi juga ikut diam sejenak memikirkan kata-kata yg akan dilontarkannya lagi.

“Artinya kamu udah matang Jo… Udah punya nafsu kamu…” Revi menerangkan dengan serius. “Coba Tante tanya, gimana menurutmu Tante ini?” Tanyanya kemudian.

“Ee… maksudnya? Tante… Ya Tante orangnya baik…?” Jawab bejo masih terbata bata belum tahu arah pembicaraan Tantenya.

“Bukan gitu…” Revi tertawa kecil. “Maksudnya secara fisik, bagaimana penilaian kamu sebagai laki-laki dewasa terhadap Tante sebagai seorang wanita dewasa… Bagaimana kamu memandang Tante?” Tanya Revi lagi.

“Ta… Tante cantik…?” Jawab bejo agak ragu.

Revi tersenyum. “Hanya itu?”

“Mmm…” bejo bingung harus brkata apa lagi. Sebenarnya dengan ditanya begitu ingin sekali ditumpahkan perasaannya saat itu juga. Tapi dia segan dan ragu, di samping menerka-nerka apa sebenarnya maksud Tantenya itu.

“Jangan malu… Hayo…?” Revi mengusap-usap rambut bejo lagi seperti hendak memunculkan kebraniannya.

“S… Seksi Tante…!” Jawab bejo sambil meringis.

“Haa…?” Revi brlagak tak mendengar.

“Iya… Tante seksi. Cantik dan seksi!” Ucap bejo lagi kali ini mantap.

Revi tertawa kecil. “Apa selama ini cuma itu yg kamu pikirkan tentang Tante?” Ucapnya. “Tante tahu, bukannya sombong ya Tante sadar dengan kecantikan Tante. Dulu Oom-mu itu banyak saingannya loh… Memperebutkan Tantemu ini. Hi hi hi…”

bejo mangut-mangut. Revi melanjutkan, “Tapi kalau cuma cantik dan seksi… Mmm…” Kalimatnya terputus. Dia bingung bagaimana menjelaskan maksudnya.

“Sekarang gini aja… Tante tanya, gimana menurutmu kulit Tante?” Tanya Revi lagi. bejo brpikir sebentar, tapi kemudian dia tak ragu lagi.

“Putih dan mulus…” Jawabnya meringis.

Revi tersenyum. “Nah begitu, kalo body Tante gimana?” Kerlingnya.

“Yaaa… Itu tadi, seksi…” Sahut bejo tak bisa menemukan kata lain.

Revi tertawa, “Oh iya…” Ucapnya. bejo jadi ikut tertawa.

“Yaa ya… sudah deh nanti Tante malah kege-eran… Tapi kamu dah paham kan maksud Tante? Kamu itu udah gede, naluri seksualmu pasti udah tumbuh. Wanita dewasa dan bagian-bagian tubuhnya menjadi sangat menarik dan merangsang buat kamu… Iya kan? Buktinya kemarin kamu nonton DVD porno… Kamu bilang penasaran. Lha iya memang begitu fitrahnya. Tante juga wanita dewasa. Bukannya ge-er, tapi Tante tahu kok selama ini kamu mengagumi Tante. Kamu suka curi-curi pandang ke Tante, terutama kalo Tante lagi nyusuin si Doni… Tante nggak marah karena emang begitu normalnya. Kecuali kamu homo…” Jelas Revi panjang lebar.

“Buah dada memang salah satu bagian dari wanita yg paling menarik bagi laki-laki di samping wajahnya. Kalo wajah kan selalu terlihat… Sementara buah dada selalu tersembunyi, jadi memang menjadi misteri yg menyenangkan bagi laki-laki, dan sensasinya jauh lebih besar kalo sudah bisa melihatnya.” Lanjut Revi masih panjang lebar. “Itulah sebabnya Tante ragu kasih kamu memerah buah dada Tante Jo… Tante ga brani…” Pungkasnya.

bejo menelan ludahnya. Mendengar Revi mengucap ‘buah dada’ brulang kali saja sudah membuat jantungnya blingsatan.

“Memangnya kenapa Tante?” bejo brtanya lugu.

“Halah, masih nanya juga kamu udah dijelasin juga… Jo, kamu bukan hanya bakal melihat buah dada Tante telanjang tapi juga menyentuhnya Jo… Bahkan meremas-remas… Itu terlalu bresiko!” Jawab Revi gemas.

“Tapi bejo kan ga mungkin macem-macem Tante… Kan sama Tante sendiri.” Jawab bejo meyakinkan. Revi terdiam. Dipandangnya wajah bejo yg ngenes.

“Duuh, kamu ini benar-benar kepingin yaa…?” Tanya Revi pelan. Dibelainya lagi kepala bejo.

“I… Iya Tante…” Jawab bejo tercekat. Matanya memandang Revi penuh harap.

“Kamu belum punya pacar Jo?” Revi mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Duh, ga kepikiran Tante… Lagian sejak kenal Tante rasanya cewek lain jadi ga menarik di mata bejo…” Jawab bejo polos.

“Waduuh, malah sudah brani merayu kamu ini… Ini Tantemu Jo…!” Tawa Revi meledak. bejo seketika tersipu. Dia sama sekali tidak ada maksud merayu tadi. Ucapannya benar-benar apa adanya.

Tiba-tiba mimik Revi brubah serius, ditatapnya mata bejo dalam-dalam.

“Jo……” Ucapnya.

“Ya Tante?” Sahut bejo brdebar-debar.

“Gimanapun Doni memang butuh ASI… Kamu… Kamu bener ya janji ga macem-macem?” Tanya Revi agak terbata. Diam-diam dia sendiri juga mulai terangsang.

“Janji Tante!” Jawab bejo mantap.

Revi terdiam sesaat. brdebar-debar bejo dibuatnya.

“Ya udah, kamu ambil wadah sana…” Akhirnya Revi membri instruksi.

“Ja… Jadi Tante…?” Sahut bejo seperti tak percaya. Dalam hatinya seketika brteriak girang seperti orang yg baru menang lotre.

“Tapi ingat loh Jo…! walau kamu nanti terangsang dengan buah dada Tante, ini demi Doni. Bukan buat pelampiasan nafsu kamu. Kamu kontrol diri ya, ingat Oom kamu…!” Ucap Revi mengingatkan.

“Siap Tante!” Sahut bejo sambil melesat keluar kamar mengambil wadah yg diminta Tantenya.

Revi diam terpaku di atas ranjang. Dirinya juga brdebar membaygkan apa yg sebentar lagi bakal terjadi. Ada perasaan grogi menyelinap, di samping nafsunya juga mulai meluap-luap.

“Aah bejo, gak nygka secepat ini kamu sudah bisa menjamah Tante.” Ucapnya dalam hati.

Kalau saja di dapur ada kamera tersembunyi, tentu polah bejo yg melompat-lompat kegirangan seperti orang yg lupa diri akan terekam. Ya, begitulah bejo saat Revi tak lagi melihatnya di luar kamar. Kegembiraannya teramat sangat, bahkan ingin rasanya dia teriak, tapi urung karena tentu Revi bakal mendengarnya. “Yess, datang juga hari ini…!” Pekiknya dalam hati.


Dengan membawa wadah yg dibutuhkan bejo segera kembali ke dalam kamar. Dilihatnya Revi duduk pasrah di tepi ranjang. Revi menoleh, senyumnya tersungging lagi.

“Ahh Tante…” gumam bejo dalam hati dengan gemas. Tak membuang waktu bejo segera duduk di ranjang brhadapan dengan Revi. Untuk sesaat keduanya tampak canggung. Tapi Revi segera angkat bicara.

“Siap Jo…?” Ucapnya tersenyum menggoda.

“Y.. ya Tante…” bejo tampak grogi.

“yg lembut ya…?” Melihat bejo yg grogi Revi malah makin gemas menggodanya.

“I… iya Pasti Tante!” bejo makin blingsatan.

“Tante tahu ini saat teristimewa bagimu…” Revi makin nekat menggoda.

bejo terdiam.

“Ini pertama kalinya kamu lihat payudara secara langsung kan?’ Tanya Revi.

bejo mengangguk cepat.

“Nah, Tante ingin kasih yg spesial buat kamu…” Kerling Revi. “Sekarang Tante kasih kamu kesempatan, kamu yg buka baju Tante…” Tantangnya.

Edan. Revi seperti lupa kata-katanya sendiri. Padahal tadi dia minta pada bejo untuk mengontrol diri dan tidak menganggapnya sebagai pelampiasan nafsu, tapi kini malah dia sendiri menggodanya seperti itu. bejo sendiri jelas terkesiap mendengar kata-kata Revi. Jakunnya naik turun, tapi belum juga brani brgeming.

“Nah lo, sekarang malah kamu yg malu-malu… Hi hi hi…” Revi membelai pipi bejo, diangkat dan ditolehkannya kepala bejo yg dari tadi menunduk supaya menghadap dirinya. Kemudian Revi membuka 1 kancing paling atas piyamanya lantas diam menunggu bejo untuk meneruskannya. bejo yg paham apa yg dikehendaki Tantenya mulai membranikan diri. Dengan gemetar tangannya mulai melolosi kancing piyama Revi satu demi satu. Nafasnya menderu. Dalam hatinya geregetan sekali dia pada Tantenya. Serasa ingin langsung ditubruk dan digagahinya. Inilah yg selalu dia baygkan saat Anton mengunjungi Tantenya itu. Baygan yg selalu menyiksa dirinya, tentang bagaimana Anton menelanjangi Tantenya. Kini peran itu dimainkan olehnya. Sekarang dia yg jadi bintangnya! bejo brhenti di kancing ketiga. 2 kancing paling bawah dibiarkannya tetap mengancing. Nafasnya makin memburu. Kebranian makin muncul dalam dadanya. Dibukanya piyama Revi dengan menyibak bagian kerahnya dan memelorotkannya dengan cepat dari atas melewati bahunya hingga brhenti di tengah lengannya. Revi tentu saja kaget.

“Kyaaa…!” Kedua payudaranya langsung melompat keluar karena dia tak mengenakan BH.

bejo terkesiap melihat pemandangan yg begitu indahnya itu. Pemandangan yg selama ini menghantui jiwa remajanya, yg menjadi impian tiap laki-laki untuk memandangnya, kini terpampang jelas di hadapannya tanpa halangan apapun. Detak jantungnya mengencang bak dentuman meriam. Nafasnya tercekat, tenggorokannya menjadi gersang, dan yg pasti ‘adik kecil’nya langsung terbangun dengan tegangan super tinggi. bejo merasa betapa bruntungnya dirinya. Pengalaman pertama melihat payudara wanita, dirinya langsung mendapat kualitas nomor satu. Payudara Revi memang benar-benar sempurna. Besar, namun padat dan kencang sehingga putingnya yg mungil mengacung seperti menantang minta segera dihisap. Putih tanpa noda, mulus tanpa cacat.

“Ahh…” Revi mendesah lirih merasakan angin dingin AC menerpa kulit payudaranya yg terbuka bebas.

Bulu kuduknya brdiri seketika. Debar jantungnya juga makin keras seperti halnya bejo. Naluri ekshibisionisnya hari ini naik ke level yg lebih tinggi dengan mempertontonkan kedua payudaranya dengan bebas tepat di hadapan keponakannya sendiri yg buruk rupa itu.

Awalnya Revi mengira bejo hanya akan menyingkap piyamanya saja. Tak disangka bejo telah membuka dirinya dengan cara seperti itu. Bagian pundak hingga dada Revi kini terekspos. Secara spontan dia menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Kenapa dibuka dua-duanya Jo…? Nakal iih… Satu aja…” Ujarnya.

“Hari ini bejo mau memeras Susu yg banyak…!” Jawab bejo nakal.

“Satu aja cukup Jo…” Ucap Revi tersenyum.

Ditariknya piyamanya supaya menutupi lagi pundaknya yg terbuka. bejo buru-buru mencegahnya.

“Jangan Tante pliss…” Ucapnya ngenes. Dia tak ingin pemandangan itu segera brakhir.

Revi langsung mencubit pipinya, “Nah lo, mulai nakal… Tante ini bukannya mau memuaskan nafsu kamu Jo. Hayo, tadi katanya janji mau kontrol diri…?! Lagian dingin kan, nanti Tante sakit lagi…” Sahutnya tegas.

bejo tidak brani membantah. Geregetan perasaannya dengan sikap Revi yg main tarik ulur itu. Revi sendiri dalam hati juga menikmati permainannya itu. Dia tahu bejo tentu terangsang brat saat itu.

“Kamu suka Jo?” Tanya Revi pelan.

“I.. Iya Tante, suka sekali…” Jawab bejo polos.

Revi tersenyum mendengarnya. Dielusnya lagi kepala bejo.

“Tante tahu betapa menariknya buah dada Tante buat kamu. Dan Tante nggak marah, justru itu menunjukkan kalo kamu laki-laki normal. Walaupun niat kita menyediakan ASI buat Doni, Tante tahu bagaimanapun juga nafsu kamu pasti tetap muncul. Kamu pasti terangsang kan? Itu resiko yg Tante ambil dan Tante harap kamu ikut jaga kehormatan Tante… Oke?” Ucap Revi, mencoba memainkan peran sebagai Tante yg bijaksana. bejo pun mengangguk tanda menurut.

“Nah ayo dimulai Jo…” Ucap Revi tersenyum menggoda. Manis sekali. bejo mulai mengulurkan tangannya.

Waktu seakan brhenti saat jemarinya menyentuh kulit payudara Revi. Bahkan jantungnya sendiri pun seolah brhenti brdenyut. bejo tidak langsung menggenggam payudara itu. Dia terlebih dulu mengelusnya dengan lembut, ingin merasakan kehalusannya. Revi merinding saat merasakan kulit payudaranya brgesekan dengan jemari bejo yg kasar. Dia membiarkan bejo mengelus-elus payudaranya untuk bebrapa saat. Dipandangnya wajah bejo yg tampak tegang.

“Puas-puasin deh Jo rasa penasaran kamu dengan payudara Tante…” gumamnya dalam hati. Sesaat kemudian, tangannya meraih tangan bejo dan digenggamkannya pada payudaranya.

“Kok malah dielus-elus Jo, ayo mulai diperas ASI Tante…” Ucapnya. Dia pun membimbing tangan bejo dengan gerakan meremas. “Begini caranya Jo…” Jelasnya.

Revi mengajarkan gerakan mengurut dan memeras dengan 2 jari hingga air susunya pun mulai keluar. bejo benar-benar takjub melihat air susu yg mengucur keluar dari puting susu Tantenya itu. Revi melepaskan tangannya dan menyandarkan tubuhnya. bejo mengerti, dia pun segera meneruskan memeras payudara Revi. Air susu Revi yg mulai mengucur deras ditampungnya di wadah yg telah disiapkan. “Curr… Cuurr… Cuurrr…” Revi memejamkan matanya dan menggigit bibirnya. Bagaimanapun dia juga merasakan sensasi dari remasan tangan bejo pada payudaranya.

“Aah… Jo jangan terlalu kencang, sakit…” Desah Revi manja.

“Iya Tante… Maaf…” bejo tersipu menyadari dirinya yg terlalu brsemangat.

“Pelan aja ya sayg…” Ucap Revi lagi.

Lagi-lagi perasaan bejo dilambungkan oleh godaan Revi yg memanggilnya dengan sebutan sayg. Makin gemas dia melumat payudara Tantenya itu dengan tangannya. Betapa menakjubkannya gumpalan payudara itu. Bentuknya sangat sederhana tapi bisa membuat semua laki-laki mabuk kepayg, blingsatan, hingga lupa diri. “Duh herannya, benda ginian aja kok nggemesin banget… Hiiih…!!! Oh mai gat… indahnyaaa…!!! Ingin rasanya bejo teriak.

“Ouuuhhh…. Joooo, pelan…!” Revi mendesah panjang. Matanya mulai sayu. Tanpa sadar bejo terlalu keras lagi meremasnya. Lenguhan Revi terdengar merdu sekali di telinga bejo. Penisnya pun makin meronta di balik celananya.

“Maaf Tante… Habis gemas…” bejo meringis seperti tanpa dosa.

“Kamu ini… mau memerah susu apa mau mencabuli Tante sih…?” Revi merengut manja. Sekali lagi bejo takjub mendengar kata-kata “mencabuli” dari bibir Tantenya itu. Hatinya teriak, “Iyaa Tante, bejo pingin mencabuli Tante sekarang jugaa…!” Tapi tentu saja kalimat itu tidak sampai keluar dari mulutnya.

Dengan pelan bejo meneruskan lagi memerah ASI dari payudara Revi. Sedikit demi sedikit wadah yg dibawanya pun mulai penuh. Revi diam saja sambil tetap menyandarkan tubuhnya. Posisinya terlihat seperti sedang pasrah. Kalau saja Doni terbangun dan bisa brpikir, tentu dia akan takjub melihat pemandangan yg ganjil itu. Mamanya yg cantik jelita brsandar pasrah sementara payudaranya yg putih mulus diremas-remas oleh tangan bejo yg kasar dan hitam legam. Sesekali Revi terlihat meringis dan menggigit bibir karena bejo masih saja kerap meremas terlalu kencang. Tapi dirinya tidak lagi memprotesnya. Diam-diam sesungguhnya dia pun menikmatinya. Tak lama kemudian wadah yg dibawanya pun penuh dengan air susu Revi. bejo menghentikan perasannya. Diambilnya tisu dan diusapnya puting susu Revi yg basah.

“Sudah Jo?” Tanya Revi. Tubuhnya menggelinjang merasakan geli di putingnya yg disapu tisu.

“Iya Tante, ni yg satu udah penuh…” bejo yg masih gemas pada payudara Revi ternyata sudah menyiapkan wadah kedua. Lho… Revi jelas tidak menygka, tapi dirinya malah tertawa geli.

“Ya ampun bejo, kamu bawa 2 wadah? Buat apa banyak-banyak Jo, 1 aja cukup…!” Ujarnya gemas.

“Buat persediaan Tante…” Jawab bejo meringis. Tapi dirinya ragu juga untuk meneruskan karna tampaknya Revi kebratan. “Itu kan sudah bisa buat 2 kali Jo… Lagian nanti kalo habis kan bisa diperah lagi…” Ucap Revi lembut.

bejo terdiam. Jelas sekali dia menahan sesuatu yg hendak disampaikannya. Mungkin karena takut. Revi yg mengamati raut muka bejo pun memahami.

“Kamu mau perah buat kamu sendiri ya? Hayo…?” Terkanya.

Muka bejo memerah. Sebenarnya dia hanya ingin lebih lama lagi menikmati menjamah payudara Tantenya itu. Tapi dirinya pun mengangguk mengiyakan.

“He eh Tante…. Bo.. leh kan Tante?” Tanyanya ragu.

Lagi-lagi Revi tertawa geli. “Kamu ini ada-ada aja Jo… Tante beliin kamu susu sapi, jarang sekali kamu minum. Eh, sekarang kamu malah ketagihan susu Tante…” Ucapnya sambil mengacak-acak rambut bejo karena gemas.

bejo hanya meringis saja. Dirinya masih belum brani bicara.

“Ya udah deh Tante kasih…” Akhirnya Revi memutuskan. “Tapi, secukupnya saja ya…?” Kerlingnya.

bejo pun sumringah, “Baik Tante…” Sahutnya cepat.

Revi tersenyum geli. Tubuhnya pun brsandar lagi mempersilahkan bejo melanjutkan. bejo tidak buang waktu. Disingkapnya piyama Revi yg menutupi payudaranya yg 1 lagi. Revi langsung memprotesnya,

“Nah lo, kok dibuka lagi Jo…? Nakal banget sih kamu…” Ujarnya pura-pura mengomel.

“Ka… Katanya boleh 1 lagi Tante…?” Jawab bejo ngeles. “Kan biar imbang Tante, kalo ga pindah susu nanti yg 1 kosong, yg 1 penuh kan jadi brat sebelah…” Lanjutnya.

Revi langsung tertawa geli mendengar logika bejo yg lugu itu. “Huuu…! Sok tahu kamu Jo…!” Dicubitnya pipi bejo dengan gemas. “Ya udah deh terserah kamu… Dasar genit!” Lanjutnya. Bagaimanapun juga pada akhirnya Revi membiarkan saja apa mau bejo.

Tidak heran memang kalau bejo terobsesi menelanjangi seluruh dada Tantenya itu. Payudara tentu jauh lebih indah bila tampil sepasang ketimbang hanya sebelah. bejo hanya mesam-mesem saja melihat tingkah Tantenya yg sok jual mahal itu. Dia pun mulai nekat. Sebelum mulai memeras, dia menyingkap lagi bagian atas piyama Revi yg masih menutupi bahunya. Dengan 1 gerakan, bahu Revi pun terbuka lagi. Revi langsung brgidik merasakan angin AC yg kembali menerpa tubuhnya.

“Iiih bejo…!” Protesnya.

“Biar leluasa Tante…” bejo brdalih.

“Dingiin Joo…” Keluh Revi.

“AC-nya dikecilin aja Tante…” Usul bejo.

Tanpa minta persetujuan Revi dia sendiri langsung meraih remote AC dan menekan tombol untuk menaikkan suhu. Revi terdiam menyaksikan ulah keponakannya yg mulai nakal itu. Piyamanya yg masih terbuka separuh dan menggantung di lengannya pun ia lolosi hingga terlepas sepenuhnya. Kemudian piyama itu dilemparkannya ke wajah bejo dengan gemas.

“Niih… Puaas…? Puaaass…?” Serunya menirukan Tukul Arwana.

bejo jelas terkesiap melihat Tantenya yg kini brtelanjang dada. Dia tak brani menjawab, hanya menelan ludah brkali-kali.

“Gila… Betapa mulus dan betapa sempurnanya…” Puja bejo dalam hatinya.

Ingin sekali dijelajahi dan dielusnya seluruh tubuh Tantenya itu. Darah Revi juga makin brdesir kencang di dalam dadanya. Dia sendiri tak menygka akan brbuat sejauh itu. Tapi ada semacam perasaan lega dan puas sekali dalam dirinya saat itu. Terjadi keheningan sesaat yg membuat mereka brdua merasa canggung satu sama lain. Akhirnya karena tidak tahan Revi pun angkat bicara.

“Hayo dimulai lagi… Kok malah bengong? Kalo kamu cuma mau melototi tubuh Tante, tak usah yaa…! Tante pakai lagi lho piyamanya!” Ujarnya.

bejo tersentak. “I… Iya Tante!” Jawabnya.

Dengan sigap bejo mulai memerah payudara Revi yg satunya. ASI murni nan jernih pun mulai mengucur deras dari puting susu Revi yg brsandar terdiam. Dirasakannya bejo masih saja kerap meremas payudaranya dengan kasar. Tapi dia enggan memprotesnya lagi. Lagipula dirinya juga mulai merasakan keenakan dari sensasi itu.

“Aaahh…” Desahnya lirih.

Mendengar itu bejo spontan memperlunak remasannya. “Sakit Tante? bejo terlalu kencang ya…?” Tanyanya prihatin.

“Eh ng… Nggak Jo, terusin aja…” Jawab Revi dengan muka memerah. Ada perasaan malu menyelinap. Desahan tadi keluar spontan saja, tak diduganya bejo ternyata memperhatikan.

Adegan pemerahan susu itu pun brlanjut. Suasana kamar menjadi hening karena tak satupun di antara mereka yg brsuara. yg ada hanya suara derasnya kucuran air susu Revi yg tertampung dalam wadah. Baik Revi maupun bejo, sama-sama saling meresapi fantasi dan kenikmatannya masing-masing. Lama kelamaan bejo pun makin tidak konsentrasi dengan pekerjaan memerahnya. Perahan pada payudara Revi untuk mengeluarkan ASInya membutuhkan gerakan mengurut yg konsisten. Sementara gerakan tangan bejo sendiri makin brvariasi, dari meremas, mengelus, bahkan memelintir-melintir puting susu Revi dengan gemas. Jelas air susu Revi tidak keluar lagi. bejo bukannya tidak menyadari hal itu, namun dia tidak peduli. Padahal wadah yg dibawanya baru terisi separuh. Revi sebenarnya juga merasakan bahwa gerakan tangan bejo mulai ‘ngaco’. Tapi dia sendiri malah mendiamkannya. Ada kepuasan tersendiri dari membiarkan jiwa remaja bejo melampiaskan rasa gemas dan penasaran pada payudaranya. Dia sendiri juga sedang melampiaskan kecenderungan ekshibisionisnya, dan kejadian hari ini sungguh memuaskan dirinya. Perasaan itu terus brgejolak, terus memuncak dan makin memuncak, makin memuncak, hingga akhirnya… “Aaahhh… hhh…” Tubuh Revi menggelinjang hebat. Dirinya mengalami orgasme hanya dengan rangsangan di buah dadanya. Cairan cintanya memancar dengan deras di dalam rahimnya hingga membanjirinya.

bejo tersentak. Remasannya spontan terhenti. Disaksikannya tubuh Tantenya yg melemas seakan seluruh tulang dalam tubuhnya dilolosi satu persatu. bejo tidak menyadari bahwa Tantenya itu sedang mengalami orgasme. Dirinya pun khawatir, wajahnya memucat merasa telah melakukan kesalahan.

“T… Tante gapapa? Tante capek ya? Maafin bejo Tante…” Ucapnya gugup.

“Nggak Jo, Tante gapapa kok…” Jawab Revi sambil tersenyum.

Wajahnya terlihat sendu. Matanya yg sayu menatap bejo. Dielusnya lembut tangan bejo yg barusan memeras payudaranya. bejo terkesima memandang wajah Revi yg sayu namun memancarkan ‘kharisma’ keayuan tersendiri. Dirinya pun tak sanggup brkata.

“Jo…” Gumam Revi lirih.

“Iya Tante?” Jawab bejo.

“Kalo udah, udah ya…” Ucap Revi tersenyum. Dielusnya pipi bejo dengan perasaan sayg. bejo pun tersipu.

“Jangan keterusan Jo, ga bakal ada habisnya kamu mainin buah dada Tante. Kamu menyiksa diri sendiri kan dengan begitu…? Udah sana buruan dibuang, biar plong…” Lanjut Revi bijaksana.

Muka bejo makin memerah mendengarnya. Tantenya ternyata mengerti betul apa yg dirasakannya. Gejolak dalam dadanya. Dia pun perlahan bangkit.

“Iya Tante…” Jawabnya lirih.

“Sana di kamar mandi Tante aja… Tapi disiram ya?” Ucap Revi.

bejo menurut. Ditaruhnya kedua wadah yg brisi air susu Revi di atas meja dan dirinya segera ngeloyor ke kamar mandi. Revi melihat ke 2 wadah itu. Satunya penuh dan satunya hanya terisi separuh. Dia pun hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Puas sekali dirinya sudah menyuguhkan dirinya pada keponakannya sendiri yg baru brumur belasan itu. Dia terdiam sejenak, namun kemudian pikirannya mulai membaygkan bejo yg sedang coli di kamar mandinya. Darahnya pun brdesir kembali. Tanpa mengenakan piyamanya lagi ia pun bangkit menuju kamar mandi. Penasaran dia ingin menonton pertunjukan bejo yg sedang menguras amunisinya di situ.

bejo yg sedang brkonsentrasi mengocok batangnya sama sekali tidak menygka Revi muncul dengan brtelanjang dada. Tantenya itu hanya brdiri di pintu kamar mandi, menatapnya sambil tersenyum manis. Namun karena mungkin setan sudah menguasai kepalanya, hal itu sama sekali tidak mengusik bejo. Justru pemandangan Tantenya yg telanjang dada itu makin memicu kocokannya.

“Aahh… Tanteee…” Desahnya sambil menatap tubuh telanjang Revi.

Perasaan Revi brgolak lagi melihat bagaimana bejo onani sambil melihat tubuh telanjangnya. Dirinya merasa seksi sekali dengan begitu. Terlebih lagi dia benar-benar takjub melihat ukuran penis bejo. Sungguh tidak disangka penis keponakannya itu brukuran super. Tangan bejo sendiri bahkan terlihat tidak cukup untuk menggenggamnya. Panjangnya mungkin 2 kali genggaman tangan bejo. Mata Revi brbinar memandang batang brurat itu diurut maju mundur dengan tangan kecil bejo. Kepalanya jamurnya yg mengkilat terlihat merah padam seakan semua darah di tubuh bejo brkumpul di situ. Timbul kerinduan luar biasa dalam dirinya pada ‘batang ajaib’ milik laki-laki itu. Baygan penis-penis semua pria yg pernah menidurinya pun brseliweran dalam benaknya. Wajah Revi memerah menyadari bejo yg sedang memandanginya. Keponakannya itu tentu menyadari matanya tadi terpaku pada penis miliknya. Senyum manisnya pun mengembang dan dihadiahkan pada bejo seakan mengatakan,

“Kereen Jo… Kamu punya barang bagus!” Dihadiahi senyuman maut itu bejo pun tak kuasa menahan laharnya yg sudah di ujung. Kocokannya dipercepat, dan… “Crraaattzz…!” Sperma bejo muncrat brkali-kali membasahi dinding kamar mandi Revi. Lagi-lagi Revi dibuat takjub melihat kekuatan orgasme bejo. Padahal antara bejo brdiri dan dinding kamar mandinya brjarak lebih dari 1 meter. Namun sperma bejo mampu muncrat begitu jauh hingga mencapai dinding itu. Tak setetes pun yg jatuh mendarat di lantai kecuali yg sisa-sisa akhir saja. Dihitungnya ada 5 kali semburan yg brtubi-tubi pada dinding kamar mandinya. Semuanya brwarna putih dan kental. Benar-benar orgasme yg luar biasa. Revi sampai ikut brdebar melihatnya. Dia pun menyadari bahwa hari ini dirinya telah menghadiahi bejo dengan sesuatu yg sangat luar biasa istimewa. Bangga sekali dirinya memikirkan hal itu.

“bejoo… bejoo… Cepet cari pacar gih…!” Candanya.

bejo hanya tersipu tanpa menjawab. Dia sibuk menyiram spermanya hingga brsih. Revi pun branjak meninggalkannya. Dirasakannya tubuhnya mulai panas dingin lagi, mungkin gara-gara nafsunya yg brgejolak. Piyamanya dikenakan lagi sebelum dia kemudian bringsut kembali di balik selimutnya.

***

Setelah itu Revi masih memuaskan diri brmalas-malasan sepanjang hari, sementara bejo sendiri makin brsemangat mengerjakan tugas-tugas rumah tangga menggantikannya. Hingga hari brakhir, tak ada lagi obrolan atau peristiwa yg ‘menjurus’ di antara keduanya. Baik Revi maupun bejo pun saling brsikap wajar seolah pagi tadi tak terjadi apa-apa. Saat Doni bangun, ASI yg cukup untuk diminum seharian pun telah siap. Selain itu bejo juga yg memandikannya, mengajaknya brmain, menyiapkan makan dan menyuapinya.



Hari Kedua

Keesokan harinya. Revi masih meminta bejo untuk tak masuk sekolah dulu. Meskipun urusan Doni sudah bisa ditanganinya sendiri, dia belum mau ditinggal sendirian di rumah. bejo masih sering dimintai tolong mengambilkan ini-itu saat Revi mengurusi Doni. Dari menyiapkan air hangat, handuk, popok, bedak, dan lain-lain. Revi masih mudah kecapekan kalau semua itu harus ditanganinya sendiri. Di samping itu, urusan kebrsihan rumah juga masih dibebankan kepada bejo. Menjelang siang saat semua sudah bres, Revi brsantai-santai menemani Doni brmain-main di ruang tengah. bejo yg baru selesai mandi ikut duduk di situ namun tidak brkata apa-apa. Dirinya seperti menunggu-nunggu kejutan apa lagi yg akan dia dapatkan dari Tantenya yg seksi itu. Wajah Revi tampak cerah dan segar. Agaknya kondisinya benar-benar sudah pulih seperti sedia kala. Tak bosan-bosannya bejo memandangi dan mengaguminya.

“Sarapan gih Jo…!” Karena merasa diamati oleh bejo, Revi pun angkat bicara.

“Iya Tante…” bejo mengiyakan tapi enggan branjak.

“Habis sarapan kamu belajar ya Jo? Yah baca-baca dikit lah… Kamu kan udah 3 hari ini bolos sekolah. Tante gak mau kamu ketinggalan pelajaran loh Jo…” Ucap Revi lagi.

bejo manggut-manggut saja. Meski dia cukup bagus dalam pelajaran ada kalanya juga dia malas belajar. Dan saat-saat sekarang ini justru sedang malas-malasnya dia membuka buku pelajaran. Terlebih, brduaan dengan Tantenya yg membuat pikirannya sering melayg dan susah konsentrasi. Walau bagaimanapun, bejo tetap tak brani membantah Revi. Dia pun branjak. Saat sarapan bejo tak banyak makan. Dirinya seperti tak brnafsu. Atau lebih tepatnya, ‘nafsu’ lainnya lebih brbicara ketimbang nafsu makan. Apalagi saat dia harus diam di kamar membaca buku. Tak satupun bab pelajaran yg masuk ke dalam otaknya. Dia pun lebih banyak tiduran dan melamun, namun tak keluar kamar. Paling tidak Tantenya mengira dia sedang belajar di dalam kamar. Bebrapa saat kemudian, merasa sudah lama di dalam kamar bejo pun tidak betah lagi.

Dilihatnya jam dinding,

“Buseet, ternyata waktu baru brlalu sejam…” Keluhnya dalam hati. Padahal dirinya merasa seakan sudah brjam-jam dia di dalam kamar.

Tapi persetan, gumamnya. Dia pun melangkah keluar kamar. Kalau Tantenya menanyakan, dia akan menjawab bahwa dia sudah belajar. Betapa girangnya bejo, di luar kamar dia menjumpai Revi sedang menyusui Doni. Sekali lagi dia mendapat pemandangan mulusnya kulit buah dada Tantenya itu. Agaknya dari ke hari pujaan dirinya terhadap Tantenya itu bukannya surut, tapi malah makin menjadi.

“Cepet amat belajarnya Jo?” Revi langsung brtanya begitu melihat bejo.

Sama sekali bukan pertanyaan menghardik. Malahan seperti biasa Revi melemparkan senyuman manisnya, seperti hendak mengatakan,

“Ya sudah kalo sedang tidak ingin belajar ya tak apa.” Itulah sebabnya bejo tak jadi brbohong menjawab pertanyaan Revi itu. Dengan polos dia menjawab,

“Susah konsentrasi Tante…” Dan jawaban itu ternyata memancing tawa Revi.

“Ya ampun Jo, awas loh nilai kamu turun…” Ucapnya. “Itulah sebabnya kemarin Tante ragu ngasih kamu buah dada Tante…!” Lanjut Revi. “yg kayak begitu memang sebenarnya ga baik buat kamu yg masih remaja. Kalo baygan-baygan porno sudah masuk ke otak, susah banget ngilanginnya, akibatnya ya itu kamu jadi susah konsentrasi… Pikiran-pikiran kamu yg harusnya dicurahkan ke pelajaran malah teralih ke hal-hal yg mesum… Kalo saja kemarin bukan karna demi Doni, Tante pasti tegas sama kamu.”

Revi terus menyerocos panjang lebar. bejo tersipu mendengarnya, walaupun sudah tidak surprise lagi dengan kalimat Tantenya itu.

“He he iya Tante… Nah itu sekarang sudah bisa nyusuin Doni, brarti ga ada acara memerah susu lagi dong Tante…?” Ucap bejo nakal.

“Idiih kamu ini baru dibilangin malah udah genit…!” Sahut Revi seraya mencubit lengan bejo. bejo menghindar sambil meringis.

“Trus yg kemarin masih sisa loh Tante…” Ucapnya.

“Kamu minum aja… Katanya doyan?” Jawab Revi sekenanya.

“Ya udah bejo minum ya…” bejo branjak ke ruang makan mengambil air susu Revi yg tersisa di dalam lemari es.

Setelah menuangkannya dalam gelas, dia pun balik lagi duduk menemani Revi yg masih menyusui Doni di ruang tengah. bejo meringis mesum padanya, tapi Revi brlagak tak memperhatikannya. Untuk sesaat keduanya duduk tanpa memulai obrolan. Pikiran bejo juga sudah sibuk brfantasi.

“Wah ini peristiwa unik,” pikirnya. Dia, Revi dan Doni duduk brkumpul.

Baik bejo maupun Doni sama-sama minum ASI dari Revi, bedanya Doni minum langsung dari sumbrnya, sedangkan bejo minum dari gelas. Revi juga tampak canggung dengan keadaan itu. Diliriknya bejo yg sedang minum. Ternyata bejo juga sedang memandangi wajahnya, hingga kedua mata mereka pun brtemu.

“Enak Jo?” Tanya Revi spontan. bejo yg ditanya malah cengengesan.

“yg penting bukan rasanya Tante…” Jawabnya nakal.

Revi merengut mendengarnya. “Dasar kamu…” Diambilnya bantal kursi dan dilemparkan pada bejo gemas.

Tiba-tiba mereka dikejutkan suara bel. Sesaat keduanya terdiam brtanya-tanya. “Kalo Heru mestinya baru balik 4 hari lagi…” Gumam Revi dalam hati.

“Jo, bukain pintu sana…!” Perintahnya kesal karena bejo tak juga branjak.

Sambil senyam-senyum dan menggaruk kepalanya yg tidak gatal bejo bangkit menuju pintu depan. Tak disangka ternyata teman-temannyalah yg datang. Luki cs brlima seperti biasa. Melihat bejo sendiri yg membukakan pintu, mereka langsung menyeru nyaris brsamaan dengan suara cempreng,

“Oi Jo ngapain aja kamu bolos 3 hari??!”

Bukannya menjawab bejo malah menghardik, “Apa-apaan sih langsung teriak aja, anak Tante lagi mau tidur tuh! Lagian kok jam segini udah pada pulang sekolah? Bolos juga ya kalian?” Selidiknya.

“Guru-guru pada rapat Jo…” Jawab Luki cs cengengesan.

“Ooh Luki dan geng… Ayo masuk masuk…!” Seru Revi dari dalam.

Kebetulan Doni baru saja selesai menyusu dan kini sedang terkantuk-kantuk dalam gendongan Revi. Kelima remaja tanggung sahabat bejo itu nyengir kuda lebar saat brtemu Revi. Ya, sama seperti bejo mereka juga sangat memuja-muja kecantikan Revi. Revi juga balas menghadiahi mereka dengan senyum manis.

[bersambung.......]

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

6 tanggapan untuk "Nikmatnya meremas buah dada tante Revi - 3A"

Cerita Hunter pada 12:35 PM, 04-Jun-11

horny (mode: on)

Blogmwb pada 11:22 PM, 19-Mar-12

Assalamu'alaikum. .ada orangnya gag??.. mrgreen
http://blogmwb.pun.bz

rafvel_ kempot pada 03:19 PM, 04-May-12

mantep?

killunkhehecom pada 09:05 PM, 13-Aug-12

di tunggu sambunganx ya sob.

Slame tok pada 04:39 PM, 24-Sep-12

Suka ceritanya, tapi terusanya mana...?????

soijah pada 09:01 PM, 25-Oct-13

goood

Langgani komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar